Selasa, 29 Maret 2011
by irna amilia
Sekitar tahun 1994/1995, konsep 5 (lima) hari kerja yang awalnya diterapkan bagi pegawai-pegawai swasta, mulai diterapkan bagi Pegawai Negeri Sipil di kampung kelahiran ku, Pinrang. Bila saat ini konsep 5 hari kerja hanya diperuntukkan bagi PNS struktural, maka diawal penerapannya, konsep ini juga diberlakukan bagi PNS fungsional seperti Guru dan penyuluh. Kalo tak salah waktu itu aku masih duduk dibangku kelas 1 sekolah menengah pertama, yupz aku masih pake rok biru dan masih pake jurus malu-lalu tapi butuh kalo diperhatikan ma cowok, hehehehe….offside, kembali ke laptop.
Lazimnya pengantin baru yang membutuhkan penyesuaian, nah lho?!. Aku dan kawan-kawan rok biruku pun mengalami hal serupa. Bila semula ke sekolah kami cukup membawa uang jajan 500 rupiah, maka dengan konsep lima hari kerja dimana waktu beraktifitas sekolah diubah dari 07.00 – 14.00 menjadi 07.00 – 15.00, maka dengan berat hati kami mewajibkan orang tua kami menambah jatah jajan menjadi 1000 rupiah (horeee) atau kalo tidak, mewajibkan mereka membekali kami dengan bekal santapan siang. Tak ada lagi acara tidur siang dan bermain di sore hari, Separoh hari ku habiskan di sekolah untuk BELAJAR, ditambah lagi kewajiban mengerjakan PR di malam hari. Sungguh capeknya seperti memintaku membersihkan debu 10 lapangan basket pake sikat gigi di siang bolong sendiri, yah sodara-sodara ku ulangi sekali lagi SENDIRI !!! hehehe. Tentunya bila kondisi ku ini, dialami oleh 30 orang x 20 kelas saja maka hasilnya bisa ditebak, program 5 hari sekolah akhirnya hanya bertahan, kalo tak salah ingat, 2 pekan saja disekolah ku. Ujung-ujungnya, program ini ditiadakan bagi anak sekolahan dan para pns fungsional seperti guru. cihuy bisa main lagi, hehehehe.
Biar Update!
Update tulisan terbaru blog ini via email andaService provided by FeedBurner
Saya
- irna amilia
- beberapa kata ada disini: penghayal (100%) | pendongeng (100%) | pekerja (68%) | pendiam (-58%) :p

